Suka Duka Kuliah Online: Listrik Mati Dan Rindu Kampus

Humas POLINEMA | 182 Pembaca

Sejak diumumkannya kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, Pemerintah menghimbau masyarakat agar melakukan physical distancing dengan melakukan aktivitas di rumah untuk memutus rantai penyebaran wabah Covid-19. Kebijakan yang dikenal dengan gerakan #dirumahaja ini berdampak di segala aspek kehidupan termasuk di dunia pendidikan.

Polinema sebagai institusi pendidikan tinggi telah menerapkan perkuliahan daring sejak 17 Maret 2020. Untuk memudahkan mahasiswa mengikuti perkuliahan daring, Polinema memberikan bantuan sarana pendukung pembelajaran dan sarana pendukung penyelesaian tugas bagi mahasiswa berupa bantuan pulsa untuk komunikasi dan paket internet. Perkuliahan daring yang sudah berjalan lebih dari satu bulan ini menimbulkan reaksi beragam dari mahasiswa. Berikut penuturan 3 mahasiswa Polinema yang telah diwawancarai tim Humas melalui aplikasi daring.

Alya Ashfia Sya’ima Zayyan, Mahasiswi Program Studi D-III Akuntansi

Mahasiswi asal Blitar ini mengungkapkan bahwa kuliah daring membuat pikiran lebih fresh karena bisa berkumpul dengan keluarga, tidak tertekan dengan rasa rindu sama kampung halaman apalagi pada bulan Ramadhan ini. Namun kuliah daring terasa kurang maksimal karena peran dosen ternyata sangat penting. Mahasiswa bisa lebih mengerti dengan materi yang diberikan dosen melalui tatap muka langsung.

“Kendala lain adalah listrik dan kuota. Alhamdulillah saat ini sudah ada kuota gratis dari Polinema. Namun saya agak terlambat untuk pengiriman tugas dibandingkan dengan teman-teman karena di rumah saya sering mati listrik”, ungkap Alya.

Mahasiswa yang aktif di kegiatan organisasi ini mengaku banyak yang dirindukan dari kampus terutama teman-teman. Pada bulan Ramadhan, biasanya Alya dan teman-teman sering sahur dan buka puasa bersama. “Bagi saya kuliah daring atau tatap muka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semoga pandemi segera usai jadi kita semua bisa hidup normal dan beraktivitas seperti biasa”, tutup Alya.

Fawwas Nayottama Nagata, Mahasiswa Program Studi D4 Teknik Mesin Produksi dan Perawatan, Jurusan Teknik Mesin

Fawwas saat ini sedang mengambil program Double Degree untuk program studi Mechatronic di Shandong University of Science and Technology, China.

Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan daring di Malang ini mengatakan waktu kuliah daring lebih santai karena tidak perlu ke kampus. Orang tua bisa mengetahui kegiatan yang dilakukan pada saat kuliah.

Kendala yang dihadapi adalah lebih sulit untuk memahami materi yang diberikan karena koneksi kecepatan internet yang berbeda antara China dan Indonesia. “Lebih nyaman kuliah dengan tatap muka karena jika ada materi yang kurang jelas, saya dapat bertanya langsung”, ujar Fawwas yang rindu dengan teman-teman dan jajanan yang ada di lingkungan kampus.

Fania Ayu Rahmadhani, Mahasiswi Program Studi D-IV Teknologi Kimia Industri

Perkuliahan yang dilaksanakan secara daring dirasakan kurang efektif bagi Fania karena adanya gangguan sinyal. Walaupun waktu pelaksanakan perkuliahan daring lebih fleksibel daripada kuliah tatap muka, tetapi situasinya berbeda dengan kampus yang memang diperuntukkan untuk proses belajar mengajar.

“Menurut saya lebih nyaman kuliah secara tatap muka langsung di kelas, karena kita dapat melaksanakan diskusi dengan seru, saling menyanggah pertanyaan dan jawaban yang kemudian diluruskan oleh dosen pengajar kita”, ungkap Fania.

Hal yang dirindukan Fania dari kampus adalah suasana di kelas, teman-teman, teknisi laboratorium dan dosen.

“Saya juga sangat merindukan praktikum. Proses belajar di politeknik rasanya kurang jika tidak ada praktikum”, tutup mahasiswi asal Pasuruan ini.